TEKNOLOGI UNTUK MEMPRODUKSI TEH DENGAN KANDUNGAN 9,10-AQ DI BAWAH MRL (0,02 ppm)

0
351

Penulis:


Dr. Rohayati Suprihatini

Jenis-Jenis Teh di Indonesia

Indonesia memproduksi berbagai jenis teh curah, namun produksi teh curah Indonesia didominasi oleh jenis teh hitam orthodox dengan kontribusi produksi sebesar 67%, sehingga Indonesia terkenal di dunia sebagai Negara produsen teh hitam orthodox.  Selebihnya, produksi teh Indonesia adalah dalam bentuk teh hijau dengan kontribusi produksi 23%; teh hitam Crushing Tearing and Curling (CTC) sebesar 7%  dan  teh jenis lainnya terutama teh putih, teh Oolong, dan teh specialty lainnya dengan total kontribusi sekitar 3% dari total produksi teh curah Indonesia (Gambar 1).

Gambar 1.  Berbagai Jenis Teh yang Diproduksi Indonesia

Teknologi untuk Memproduksi Teh dengan Kandungan 9,10-AQ di Bawah Dosis MRL (0,02 ppm)
Untuk mendapatkan  teh dengan kandungan 9,10-AQ di bawah MRL (0,02 ppm) baik teh hijau, teh hitam orthodox maupun teh hitam CTC,  harus memenuhi persyaratan umum pabrik, kondisi proses pengolahan dan persyaratan produk teh-nya itu sendiri sebelum disiapkan untuk tujuan ekspor ke negara-negara yang mensyaratkan MRL 9,10-AQ terutama Negara-negara Eropa.

Persyaratan Umum.

  • Pada teh kering (made tea) harus bebas dari cacat rasa high fired, smoky, bakey dan Burnt, karena teh dengan cacat-cacat tersebut berpeluang besar terkontaminasi 9,10-AQ di atas MRL.
  • Ruangan tungku/burner harus tersekat dari ruangan proses untuk mencegah kontaminasi asap pada proses yang lainnya.
  • Tidak ada kebocoran pada HE sekecil apapun.
  • Menggunakan udara segar yang bersumber dari luar bangunan pabrik untuk disalurkan ke HE
  • Cerobong asap minimal 15 meter lebih tinggi dari atap pabrik.
  • Dilakukan pembersihan abu pada ruang bakar/tungku/burner sebelum proses dimulai dan secara periodik selama proses produksi berlangsung apabila abu telah menumpuk.
  • Dilakukan pembersihan debu dan sisa-sisa teh pada alat-alat dan mesin pengering sebelum proses dimulai dan apabila ditemui kasus dan tanda terjadinya cacat  high fired, smoky, bakey dan burnt karena berbagai faktor selama proses pengeringan.

Teknologi Pengeringan.

  • Teknologi pengeringan teh yang paling aman untuk menghindari resiko kontaminasi 9,10-AQ melebihi MRL adalah menggunakan sistem water heater generator/boiler.
  • Untuk teknologi pengeringan menggunakan Heat Exchanger (HE), bahan bakar yang paling aman adalah menggunakan gas elpiji atau teknologi gasifikasi yang telah disaring. Namun,  harga bahan bakar gas elpiji ini paling mahal dibandingkan wood pellet dan cangkang sawit, dan kadang-kadang ketersediannya di pasar kurang konsisten.
  • Untuk teknologi menggunakan HE, dapat menggunakan bahan bakar padat wood pellet terstandar berdasarkan SNI 8021:2014, namun berdasarkan pengalaman beberapa manager pabrik pengolahan teh, untuk memproduksi teh dengan kadar 9,10-AQ di bawah  MRL dan juga dapat menekan biaya pengeringan teh,  hendaknya memilih wood pellet dengan kadar air < 8%; nilai kalori > 4200 kal/g; berbentuk silinder dengan diameter 8 mm; panjang 6-8 cm; kandungan ash <1,5%; bulk density > 0,8 g/cm3; kandungan sulfur < 300 ppm dan kandungan chlorin < 300 ppm;
  • Untuk lebih mengurangi resiko 9,10-AQ dengan lebih yakin pada pengolahan teh hijau, dapat menggunakan kombinasi antara bahan bakar padat wood pellet pada proses pelayuan di RP dan pengeringan di ECP. Dan selanjutnya menggunakan bahan bakar gas pada pengeringan akhir di Ball Tea, sehingga biaya pengeringan dapat lebih terkendali namun dapat memastikan bahwa produk teh hijau yang dihasilkannya memiliki kandungan 9,10-AQ di bawah MRL.
  • Untuk bahan bakar cangkang sawit, agar teh yang dihasilkannya tidak terkontaminasi 9,10-AQ dia atas MRL, harus menggunakan “burner berbahan bakar cangkang sawit” terlebih dahulu yang selanjutnya udara panas dari burner tersebut disalurkan ke ruang HE. Karena pada dasarnya kriteria bahan bakar cangkang sawit telah memenuhi kriteria bahan bakar padat (kecuali kadar air dan  tingkat kadar abu); bulk density 1,1g/cm3 – 2,0 g/cm3 dan nilai kalori yang tinggi sebesar 5018 kal/g – 5810 kal/g.
  • Asupan input teh yang akan dikeringkan harus konsisten selama proses pengeringan
  • Asupan bahan bakar harus konsisten selama proses pengeringan
  • Indikator suhu inlet dan outlet harus berfungsi dan difungsikan dengan baik.
  • Sesuaikan kondisi pucuk (kadar air pucuk, dan apabila pucuk terkenan OPT) dan  ketebalan pucuk serta kapasitas alat  dengan kebutuhan suhu inlet.  Pada kasus teh hijau yang pada proses pelayuannya menggunakan Rotary Panner (RP), dan pengeringannya menggunakan mesin Enless Chain Pressure (ECP) maka suhu inlet harus dikendalikan tidak melebihi 135 derajat C untuk mencegah resiko kontaminasi 9,10-AQ.

Diharapkan dengan aplikasi teknologi ini, teh Indonesia akan terbebas dari resiko terkontaminasi 9,10-AQ melebihi MRLnya (0,02 ppm) sehingga  nilai ekspor teh Indonesia ke wilayah Eropa dapat dikembalikan atau dapat menyelamatkan  sekitar  USD 15 juta atau Rp 2.280 Milliar per tahun.  Selanjutnya, dapat meningkatkan harga pasar, dan marjin keuntungan dari agribisnis teh di Indonesia.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon masukkan komentar Anda
Mohon masukkan nama Anda